Menjaga Ketahanan Pangan Melalui Inovasi Varietas Padi Lokal yang Tahan Iklim
Ketahanan pangan tidak bisa diwujudkan oleh satu pihak saja. Di tengah tantangan perubahan iklim global, Indonesia memerlukan sinergi antara berbagai sektor dan negara untuk memperkuat sistem pangan dari akar rumput.
Salah satu bentuk kolaborasi tersebut terwujud dalam proyek riset “Membangun Masa Depan yang Berkelanjutan: Mengembangkan Varietas Tanaman yang Bergizi dan Tahan Iklim”. Proyek ini melibatkan peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), International Rice Research Institute (IRRI), dan Australian National University (ANU). Melalui kerja sama ini, para peneliti berupaya mengembangkan varietas padi lokal yang tidak hanya tangguh terhadap perubahan iklim, tetapi juga memiliki kandungan gizi yang lebih tinggi.
Salah satu anggota tim riset adalah Prof. Dr. Yekti Asih Purwestri, Guru Besar bidang Biokimia Molekuler Fakultas Biologi UGM. Penelitiannya berfokus pada optimalisasi potensi genetik padi berpigmen sebagai sumber pangan fungsional.
“Pangan fungsional bukan sekadar sumber energi,” jelas Prof. Yekti. “Namun juga memiliki manfaat tambahan bagi kesehatan, misalnya, beras hitam yang kaya antosianin berperan sebagai antioksidan alami.”
Varietas padi berpigmen seperti beras merah dan beras hitam sering kali kurang diminati pasar, padahal kandungan antioksidan dan mikronutriennya jauh lebih tinggi dibandingkan beras putih. Beberapa jenis bahkan mengandung pati resisten yang baik untuk mengontrol kadar gula darah.
Dari Laboratorium ke Lahan Pertanian
Prof. Yekti menjelaskan bahwa banyak varietas padi lokal sebenarnya telah memiliki ketahanan alami terhadap kondisi ekstrem seperti kekeringan.
“Kami berusaha mengungkap mekanisme genetik yang berperan dalam ketahanan terhadap kekeringan,” ujarnya. “Beberapa kultivar lokal dari NTT, misalnya, memiliki kemampuan alami bertahan di lahan kering. Kami ingin memahami dasar genetiknya agar dapat dikembangkan menjadi varietas unggul.”
Untuk tujuan tersebut, tim peneliti memanfaatkan teknologi genome editing, metode yang kerap disalahpahami sebagai rekayasa genetik (GMO). Padahal, prinsipnya berbeda.
“Genome editing tidak menambahkan gen baru dari organisme lain,” jelas Yekti. “Kami hanya mengoptimalkan potensi genetik yang sudah dimiliki tanaman.”
Metode ini dapat diibaratkan seperti menyunting naskah tanpa menambah kata baru, hanya memperbaiki bagian tertentu agar lebih efektif. Dalam konteks tanaman, teknik ini digunakan untuk memperkuat gen yang berperan dalam ketahanan terhadap kekeringan. Dengan pendekatan ini, hasil riset diharapkan mampu menghasilkan varietas padi yang lebih tangguh dan adaptif terhadap perubahan iklim, tanpa kehilangan kemurnian sifat aslinya.
Menguatkan Ekosistem Riset dan Inovasi Pangan Nasional
Menurut Prof. Yekti, keberhasilan riset bukan hanya diukur dari temuan ilmiah di laboratorium, tetapi dari sejauh mana hasilnya memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Riset harus dekat dengan petani dan industri,” katanya. “Jika varietas yang kami kembangkan dapat tahan kering, bergizi, dan memiliki nilai ekonomi tinggi, maka dampaknya tidak hanya bagi sains, tetapi juga bagi kesejahteraan petani.”
Penelitian ini membuka peluang kolaborasi lintas sektor, mulai dari petani lokal hingga lembaga penelitian internasional. Komunikasi langsung dengan petani dianggap penting agar hasil penelitian benar-benar sesuai dengan kebutuhan di lapangan dan dapat diterapkan secara nyata.
Menariknya, riset ini juga menumbuhkan rasa ingin tahu masyarakat sekitar. Banyak warga yang mengikuti perkembangan penelitian, menunjukkan bahwa sains dapat menjadi bagian dari kehidupan sosial jika dikomunikasikan dengan baik.
Ke depan, Prof. Yekti berharap Indonesia dapat memperkuat fasilitas riset genomik di dalam negeri sehingga analisis tidak perlu lagi dilakukan di luar negeri. Ia meyakini bahwa sumber daya manusia Indonesia memiliki kemampuan yang sangat baik, yang dibutuhkan hanyalah dukungan infrastruktur dan komitmen jangka panjang untuk membangun kemandirian riset.
Perjalanan riset ini menjadi bukti bahwa inovasi dapat tumbuh dari potensi lokal. Dengan memadukan ilmu pengetahuan modern, kolaborasi lintas sektor, dan keterlibatan masyarakat, upaya mewujudkan ketahanan pangan nasional dapat dilakukan secara berkelanjutan, inklusif, dan berpijak pada kearifan lokal.